Kamis, 08 Maret 2012

Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW


Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Beliau SAW yang berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kisah-kisah seputar Nabi Muhammad SAW guna mengenang kehidupan Beliau. Biasanya maulid Nabi dilakukan dengan membaca kisah kehidupan Nabi seperti al-Barzanjy, ad-Daiba’y, Simth ad-Durâr, menghidangkan makanan, memperbanyak shalawat, mau’idhah hasanah, dan lain-lain. Dengan menjelajahi seluk beluk kehidupan Nabi SAW banyak hal yang dapat kita pelajari baik dari sisi kemanusian, sosial dan keadilan, karena beliaulah manusia terbaik dan teladan kita yang akan membawa kita pada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana firman allah Q.S Al-Ahzab ayat 21:

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan maulid seperti yang kita kenal sekarang sebenarnya baru dirintis oleh penguasa Irbil yaitu Raja Mudhaffar Abu Sa’îd Al Kukburi Bin Zainuddin Ali Bin Buktikin. Meski demikian, orang yang melakukannya akan diberi pahala. Imam Suyûthy mengatakan :
سُئِلَ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ وَهَلْ هُوَ مَحْمُودٌ أَوْ مَذْمُومٌ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لَا قَالَ وَالْجَوَابُ عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ r وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنْ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ r وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ
Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan maulid Nabi SAWpada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumny amneurut syara’.Aapakah terpuji atau tercela ? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak ? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Quran, dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya samapi perjalanan kehidupannya . Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Oarang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan rasa suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia.[1]
 Jadi sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi itu merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senang atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Di samping itu, melihat isi dari perayaan maulid Nabi SAW, hal itu termasuk melaksanakan anjuran-anjuran agama. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan maulid nabi :
  1. Pembacaan solawat pada Nabi SAW yang mana keutamaannya sudah tidak  diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya. Sehingga dengan kajian inilah seorang muslim memperoleh gambaran tentang haqiqat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
  2. Peringatan tersebut merupakan sebab atau sarana yang mendorong kita untuk bershalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah :

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS al-Ahzâb : 58)

  1. menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji sehingga seorang muslim akan termotifasi untuk mengikuti perilaku Beliau SAW. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Al-Quran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas dari syariah.[2]
Penjelasan di atas memberikan pengertian bahwa maulud nabi merupakan tradisi yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri. Sebab kebiasaan tersebut memang sangat dianjurkan oleh syariat, sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh di lewatkan, bahkan menjadi kewajiban bagi para da’i ,ulama untuk mengingatkan ummat pada akhlak, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah ,cara bergaul ,dan ibadah Nabi SAW.[3]
Sebenarnya memperingati hari kelahiran (maulid) pernah dicontohkan oleh Nabi sendiri. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim disebutkan :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ  (رواه مسلم عن أبي قتادة)
Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku (HR Muslim dari Abî Qatâdah)

Ternyata Rasulullah juga memperingati hari kelahiran Beliau dengan cara berpuasa. Rasulullah SAW sendiri yang menjelaskan bahwa hari kelahiran Beliau mempunyai keistimewaan daripada hari-hari yang lain.
Hanya yang perlu ditegaskan, peringatan maulid Nabi SAW tidak terkhusus pada bulan Rabi’ul Awwal saja. Kita dianjurkan untuk selalu memperingati Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu setiap ada kesempatan, lebih-lebih ketika bulan Rabi’ul Awwal dan ketika hari Senin. Memang peringatan maulid Nabi SAW pada bulan tertentu dan dengan model tertentu tidak mempunyai nash yang tegas. Namun juga tidak ada satu dalilpun yang melarang karena berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah, membaca shalawat dan amal-amal baik lainnya termasuk yang harus selalu kita perhatikan dan kita lakukan. Lebih-lebih pada bulan kelahiran Beliau SAW di mana rasa keterikatan sejarah akan sangat mendorong masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan lebih meresapi apa yang dilakukan dan disampaikan.[4]

DALIL-DALIL DIPERBOLEHKAN PERAYAAN MAULID
@ Perayaan maulid Nabi SAW adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau. Hal ini diperintahkan oleh agama sebagaimana firman Allah :

 Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"(QS Yûnus : 58)..

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira ketika mendapatkan rahmat Allah. Padahal Nabi Muhammad SAW  adalah rahmat yang paling agung sebagaimana firman Allah :

 Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS al-Anbiyâ` :107)

Hal ini diperkuat oleh pendapat shahabat Ibn ‘Abbas. Ketika mengomentari surat Yûnus : 58, Beliau mengatakan
فضل الله العلم ورحمته محمد r قال الله تعالى وما أرسلناك إلا رحمة للعلمين
Karunia Allah adalah ilmu, sedang rahmat Allah adalah Nabi Muhammad SAW.Allah berfirman,”Wa Mâ Arsalnâka…..[5]
Bergembira atas kelahiran Nabi SAW dianjurkan di setiap waktu dan dalam setiap karunia. Namun anjuran tersebut menjadi lebih pada hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal karena mempunyai keterikatan sejarah.
@ Nabi sangat memulyakan dan memperhatikan hari kelahiran Beliau sebagaimana tercermin dalam hadits :
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ , فَقَالَ : ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ , وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ عن أبي قتادة
Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku (HR Muslim dari Abî Qatâdah)
Betapa Rasulallah memulyakan hari kelahirannya, beliau bersyukur pada Allah SWT pada hari tersebut atas karunianya yang telah menyebabkan keberadaannya yang diungkapkan dengan berpuasa.
Memang Nabi memperingati hari kelahiran Beliau dengan berpuasa berbeda dengan yang sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Namun hal ini tidak mengapa karena itu hanya masalah metode. Sedang inti dan tujuannya sama, yaitu memepringati dan mensyukuri kelahiran Beliau. Hal ini tidak jauh beda dengan perintah mengajarkan al-Quran. Sekarang al-Quran diajarkan melalui CD, kaset, dan lain sebagainya. Hal ini tidak mengapa karena hanya dalam metode. Sedang intinya sama yaitu mengajarkan al-Quran.
@ Nabi SAW selalu memperhatikan waktu-waktu bersejarah yang telah lewat. Ketika tiba masa peristiwa tersebut, Rasulullah SAW memperingati dan memulyakan hari tersebut. Hal ini tercermin dalam hadits :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ r الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي  إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري وسلم  وغيرهما)
Dari Ibn ‘Abbâs ra. Ia berkata, ketika Rasulallah SAW dan para sahabat tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang puasa Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa kalian melakukan puasa tersebut?” Orang yahudi menjawab, “Pada hari inilah Allah menenggelamkan Firaun dan menyalamatkan Nabi Musa AS. Kami sangat mensyukurinya. Oleh karena itu kami berpuasa. Mendengar jawaban itu, Rasulallah bersabda, “Kami lebih berhak untuk memulyakan Nabi Musa AS (dengan berpuasa) daripada kalian. (HR Bukhari, Muslim, Abi Dawud, dll.)
@ Peringatan maulid Nabi adalah mengingat perjalanan hidup dan diri Rasulullah SAW. Hal seperti ini termasuk bagian dari anjuran agama. Bila kita perhatikan rangkaian ritual ibadah haji, ternyata mayoritas adalah untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus dan tempat-tempat bersejarah, seperti : sa’i Shafa dan Marwah untuk mengingat Siti Hajar ketika mencari air, enyembelihan di Mina, melempar jumrah, dan lain sebagainya.
@ Manfaat dari bergembira dengan kelahiran Nabi SAW ternyata juga bisa dirasakan oleh Abu Lahab sebagaimana disampaikan ibn al-Jazary dalam ‘Urf at-Ta’rîf bi al-Maulid as-Syarîf :
قد رؤي أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك فقال في النار إلا أنه يخفَّف عني كلَّ ليلة اثنين بإعتاقي ثُويبة عندما بشرتْني بولادة النبي r وبإرضاعها له
Abu Lahab terlihat dalam mimpi setelah ia mati. Ia ditanya,”bagaimana kondisimu?” Abu Lahab menjawab, “Di neraka. Hanya saja Allah memberi keringanan padaku setiap malam Senin karena aku memerdekakan Tsuwaibah setelah memberitahukan kelahiran Nabi SAW dan karena menyusukan Nabi padanya.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam Kitâb an-Nikâh, Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri`, ‘Abdur Razâq as-Shan’âny dalam al-Mushannaf, al-Baihaqy dalam Dalâ`il an-Nubuwwah, Ibn Katsîr dalam al-Bidâyah, as-Syaibany dalam Hadâ`iq al-Anwâr, al-Baghawy dalam Syarh as-Sunnah, dan lain-lain.
Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan dispensasi siksa karena memulyakan dan gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi bila yang bergembira adalah orang Islam. Meskipun kisah ini termasuk kategori hadits mursal, namun dapat diterima karena telah dinukil oleh Imam Bukhari dan menjadi pedoman para ulama. Lagipula ini dalam permasalahan sejarah bukan dalam hukum.
@ Tidak setiap perbuatan yang tidak dikenal di masa awal Islam berarti tidak boleh dilakukan.[6] Apalagi dalam permasalahan maulid. Meski model secara utuh yang dikenal sekarang tidak pernah dilakukan di masa awal Islam. Namun secara parsial, tiap amal yang dilakukan pada perayaan maulid dianjurkan agama. Sehingga perayaan maulid Nabi juga termasuk anjuran agama. Sebab sesuatu yang tersusun dari hal-hal yang dianjurkan berarti juga dianjurkan.[7]

SEPUTAR PENGKULTUSAN RASULULLAH DAN PEMBACAAN AL-BARZANJY
Membaca maulid al-Barzanjy, ad-Daiba’i, Simth ad-Durar, ad-Dliyâ` al-Lâmi’, dan sebagainya diperbolehkan. Bahkan tradisi bersyi’ir memuji Rasulullah SAW telah dilakukan oleh shahabat al-‘Abbas sebagaimana dalam hadits :
قَالَ خُرَيْمُ بن أَوْسِ بن حَارِثَةَ بن لامٍ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ r, فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَحِمَهُ اللَّهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَمْدَحَكَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ r هَاتِ لا يَفْضُضِ اللَّهُ فَاكَ  فَأَنْشَأَ الْعَبَّاسُ يَقُولُ :
مِنْ قَبْـلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلالِ وَفِي & مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ
ثُـمَّ هَبَـطْتَ الْبِـــــــلادَ لا بَشَـرٌ أَنْـــ & ـــــــتَ وَلا مُضْــغَةٌ وَلا عَلَــــــــقُ
بَلْ نُطْفَــةٌ تَــرْكَـبُ السَّفـــِينَ وَقَـــدْ & أَلْجَــــــــمَ نَسْرًا وَاهَــلَهُ الْغَـــــــرَقُ
تُنْـــــقَلُ مِنْ صــَـالِبٍ إِلَى رَحِـــــمٍ & إِذَا مَضَى عَالِمٌ بَدَا طَبـــــــــــــــَقُ
حَتَّى احْتــَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ مــِنْ & خَنْـــــدَفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّــــطْقُ
وَأَنْتَ لَمَّا وُلِــدْتَ أَشْــــــرَقَـتِ الْ & أَرْضُ وَضَـــاءَتْ بنورِكَ الأُفــــُقُ
فَنَــحْـــــنُ فِي الضِّيَـــــاءِ وَفِـي النْـ & ـنُوْرِ وَسُــبْلُ الرَّشَـــــادِ نَخْتَــــرِقُ
(رواه الحاكم في المستدرك والطبراني في المعجم الكبير)
Hadits di atas juga disebutkan oleh Qâdli ‘Iyâdl dalam as-Syifâ` dan al-Istî’âb dan Muhammad bin Abi ‘Umar (guru Imam Muslim).
Sebagian orang melarang perayaan maulid dan membaca al-Barzanjy dan sejenisnya karena berisi pujian kepada Rasulullah SAW. Padahal Nabi sendiri telah melarang pujian kepada Beliau sebagaimana dalam hadits :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ t يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ r يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ (رواه البخاري)
Dari Ibn ‘Abbas, ia mendengar Umar ra. Berkata di atas mimbar : Aku mendengar Nabi SAW bersabda, “Jangan mengkultuskan aku sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan Isa ibn Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhâri)
Menjawab hal tersebut, perlu kita ketahui bahwa Rasulullah SAW secara tegas telah melarang pengkultusan kepada Baliau. Yaitu pengkultusan seerti yang dilakukan orang nashrany kepada Nabi Isa dengan menganggap Nabi Isa sebagai anak Tuhan atau bagian dari trinitas. Sedang memuji kepada Nabi SAW yang tidak sampai menuhankan Beliau, mengeluarkan Beliau dari kemanusiaan diperbolehkan karena Allah sendiri telah memuji kepada Nabi Muhammad SAW seperti dalam firman-Nya :
 
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS al-Qalam : 4 ).

Kita memuji kepada Nabi Muhammad SAW bukan berarti kita mengangkat Beliau dari sifat kemanusiaan. Kita mengagungkan kepada Nabi sebagaimana Allah telah mengagungkan Beliau. Kita memuliakan orang yang telah dimuliakan Allah. Kita memuji kepada Beliau SAW yang telah dipuji oleh Allah. Kita menyanjung Nabi karena ketatan kita kepada Allah yang telah menyang Rasulullah SAW. Di samping itu, para shahabat dulu sering memuji kepada Beliau SAW seperti dalam kisah al-‘Abbâs di atas dan ternyata Beliau mendiamkan yang berarti pertanda Beliau menyetujui.


[1] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, al-Hâwi Li al-Fatâwy, (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Araby), tt., vol.I, hal. 251-252.
[2] Syekh Sayyid Muhamad  ‘Alâwy al-Maliki, Fatawi Rasa`il,  hal. 180
[3] Sayyid Muhamad al- Maliki,Mafâhîm Yajib an Tushahhah, (Makkah : Dâ`irah al-Auqâf wa as-Syu`ûn al-Islâmiyah), tt., hal. 78
[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany,  Haul al-Ihtifâl bi Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy as-Syarîf,(Kairo : Dâr Jawâmi’ al-Kalim), cet.ke-10, 1418 H., hal,11-13.
[5] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, ad-Dur al-Mantsûr, Maktabah al-Maimuniyah, vol.II, hal. 308.
[6] Lebih jelas silahkan lihat dalam pembahasan bid’ah.
[7] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany,  Haul al-Ihtifâl, hal. 34.

7 komentar:

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,.

sayang sekali tulisannya kekecilan..

salam kenal. dari newbie.

alhamdulillah tulisannya kekecilan..

ini sufi ya... pandai kali memelintir hadist, hadistnya betul tapi tidak cocok dengan bid'ah maulid, itu bukan dalil yang memerintahkan maulid pak...

Salam All
Makasih Kunjungannya......
@anonim: Silahkan utarakan pendapat anda yang bisa kita terima secara ilmiah, kita bebas memberikan pendapat jangan hanya memberikan celaan akan tetapi tidak memberikan solusi...
makasih banyak atas komentar anda....
Salam Damai...
Wassalam....

Hari Maulid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah hari dimana kebenaran datang, dan kebathilan hancur, dimana patung2 jatuh berguguran, api sesembahan Majusi padam. Jaa'al wa zahaqal baathil.Innal baathila kaana zahuuqan.
Sah2 saja kita sebagai ummatnya untuk merayakan hari lahir Beliau.
Dalil2 tersebut memang tidak lugas memerintahkan untuk merayakan maulid. Tetapi dalil2 tersebut mengandung banyak fadhilah2 untuk kita merayakan maulid Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam, kita bacakan sirah2 Beliau, bershalawat atas diri Beliau. Semua itu pasti tidak akan sia2.

semua alasan dan dalil-dalil yg digunakan oleh orang2 yg membolehkan acara peringatan maulid nabi Muhammad saw sdh dibantah oleh ulama2 salaf.

Poskan Komentar

Pilih Warna Kesukaan Anda

Lirboyo Kaifa Hal

Ikuti Ane Dong