Sabtu, 31 Desember 2011

Tahun Baru- Karya Gus Mus

Sudah tahun baru lagi Belum juga tibakah saatnya kita menunduk? Memandang diri sendiri? Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya? Kawan! Siapakah kita ini sebenarnya? Musliminkah? Mukminin? Muttaqi? Khalifah Allah?
Ummat Muhamadkah kita? 
Khaira ummatin kah kita? 
Atau kita sama saja dengan makhluk lain? 
Atau bahkan lebih rendah lagi? 
Hanya budak-budak perut dan kelamin  
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib
rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan,
 lebih pipih dari kain rok perempuan. 

Betapapun tersiksa,
kita khusyu' di depan massa dan tiba-tiba buas 
dan binal justrusaat di saat sendiri bersamaNya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug 
Atau pernyataan setia pegawai rendah saja, 
kosong tak berdaya. 


Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu,
lebih cepat daripada menghirupkopi panas, 
dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
  
Doa kita sesudahnya justru lebih serius
kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga. 
Puasa kita rasanya sekedar mengubah 
jadual makan minum dan saat istirahat 
Tanpa menggeser acara buat syahwat 
Ketika datang lapar atau haus, 
kitapun manggut-manggut
 " Ooh beginikah rasanya" dan kita sudah merasa 
memikirkan sodara-sodara kita yang melarat. 

Zakat kita jauh lebih berat terasa 
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya
untuk kupon undian yang sia-sia 
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, 
upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda. 
Haji kita tak ubahnya tamasya, menghibur diri, 
mencari pengalaman spiritual danmatrial.
  

Membuang uang kecil dan dosa besar, 
lalu pulang membawa label suci 
asli made in Saudi … Haji… Kawan, 
lalu bagaimana, bilamana, 
dan berapa lama kita bersamaNya? 

Atau kita justru sibuk menjalankan 
tugas mengatur bumi seisinya 
Mensiasati dunia sebagai khalifahNyaKawan, 
tak terasa kita memang semakin pintar
 Mungkin kedudukan kita 
sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita.

Paling tidak kita semakin pintar berdalih 
Kita perkosa alam dan lingkungan, demi ilmu pengetahuan 
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran Melacur
dan menipu demi keselamatan Memamerkan kekayaan
demi mensyukuri kenikmatan  
Memukul dan mencaci demi pendidikan 
Berbuat semaunya demi kemerdekaan 
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman 
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata, 
demi semua yang baik halallah semua sampai yang tidak baik Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman? 
Para mubaligh dan kiai, penyambung lidah nabi? 

Jangan ganggu mereka 
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya 
Para seniman sedang merenungkan apa saja  
Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana 
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa 
Para pemimpin sedang mengatur semuanya 
Biarkan mereka di atas sana 
Menikmati dan meratapi persoalan mereka sendiri 
Kawan selamat tahun baru Belum juga tibakah saatnya kita menunduk? Memandang diri sendiri.




0 komentar:

Posting Komentar

Pilih Warna Kesukaan Anda

Lirboyo Kaifa Hal

Ikuti Ane Dong