Kamis, 25 Oktober 2012
Hutbah Idul Adha
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ
أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَعَبْدَهْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ, اَلَّلهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَصْحَابِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَزْوَاجِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرِّيِّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بَسَطَ لِعِبَادِهِ
مَوَاعِدَ اِحْسَانِهِ وَاِنْعَامِهِ وَاَعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذِهِ الْايَامِ عَوَائِدَ
بِرِّهِ وَاِكْرَامِهِ, اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ اِفْضَالِهِ
وَاِمْدَادِهِ, وَاَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ جُوْدِهِ وَحُسْنِ وِدَادِهِ بِعِبَادِهِ
أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ
لَاشَرِيْكَ لَهُ فِى مُلْكِهِ وَبِلاَدِهِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَشْرَفُ عِبَادِهِ وَزُهَادِهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
خَيْرِ عِبَادِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّاهِرِيْنَ مِنْ بَعْدِهِ .
: أَمَّا بَعْدُ
فَيَا اَيُّهَا حَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ
اللهُ… أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَبَادِرُوا
رَحِمَكُمُ الله بِإِحْيَاءِ سُنَةِ اَبِيْكُمْ اِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
بِمَاتُرِيْقُوْنَهُ مِنَ الدِّمَاءِ فِى هَذَاالْيَوْمِ الْعَظِيْمِ . اَللهُ أَكْبَرُ-
اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُوَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Hadirin sidang Idul Adha
yang berbahagia
Syukur Alhamulillah di pagi hari yang penuh rahmat
dan ampunan Allah SWT, kita dipertemukan di dalam tempat yang suci dan mulia
untuk memenuhi panggilanNya yang terangkai indah didalam untaian sholat Idul
Adha. Sholawat serta salam tak lupa kami haturkan keharibaan baginda nabi Besar
Muhammad Saw yang diutus ke muka bumi ini sebagai rahmatan lil’alamin.
Hadirin para tamu Allah SWT
yang berbahagia
Di tempat yang mulia ini
pula kami tidak bosan-bosannya berwasiat khususnya untuk diri kami sendiri dan
para jama’ah pada umumnya, marilah kita tingkat kualitas iman dan taqwa kita
kepada Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi
segala larangNya agar kita selamat di dunia dan di akhirat.
Hadirin sidang Idul Adha
yang berbahagia
Semenjak tadi malam telah
berkumandang takbir, tahmid dan tahlil di seluruh pelosok nusantara di
surau-surau dan di masjid-masjid. Dengan suara takbir “اَللهُ أَكْبَرُ” kita tanamkan keyakinan tentang kebesaran Allah SWT. Sesungguhnya hanya
Allah SWT yang Maha Besar sedangkan selainNya adalah sangat kecil dan fana.
Bila kita merasa bangga dan merasa jaya karena memiliki banyak harta, merasa
kuat karena berpangkat dan merasa maju karena berilmu, namun ingatlah bahwa
semua itu ada batas dan waktu yang telah ditentukan Allah SWT hanya Dialah
Allah Yang Maha Besar dan Kekal Abadi selama-lamanya.
Hadirin sidang Idul Adha
yang berbahagia
Keyakinan yang kokoh akan
kebesaran Allah SWT nampak jelas di dalam diri Baginda Nabiyullah Ibrahim AS
dan Beliau buktikan dengan menumbangkan berhala-berhala sebagai simbol
kekufuran di zaman itu tanpa kenal rasa takut terhadap tirani Raja Namrudz kala
itu. Ujian demi ujian beliau lalui dengan penuh kesabaran dan ketabahan hingga
beliau mampu menyempurnakannya sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. Al
Baqoroh ayat 124
وَاِذِ ابْتَلَا اِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَاَتَمَّهُنَّ,
قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا, قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ, قَالَ
لَايَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْنَ.
Artinya:”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa
kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya”. Allah berfirman
:”Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata:”(Dan saya mohon juga) dari
keturunanku. Allah berfirman:”JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang
zalim”.
Betapa tinggi derajad yang diberikan
Allah SWT kepada Beliau Baginda Nabiyullah Ibrahim As, setelah mampu melewati
segala macam cobaan dan ujian
diantaranya membangun Ka’bah, membersihkan Ka’bah dari kemusyrikan, mengorbankan
anaknya Ismail, menghadapi Raja Namrudz dan lain-lain. Sehingga Allah SWT
banyak mengabadikannya di dalam ritualitas keagamaan yang sakral dalam bentuk
ibadah Haji dan qurban.
Hadirin para tamu Allah
SWT yang berbahagia
Ibadah Haji merupakan
kuwajiban bagi setiap muslim yang mampu dan telah mencukupi syarat-syaratnya.
Hal ini ditegaskan Allah SWT di dalam QS. Ali Imran ayat 97:
وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ
سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ.
Artinya : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT,
yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS: Ali Imron ayat 97).
Bagi yang telah
menjalankannya tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga yang penuh
dengan keni’matan-keni’matan. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Baginda
Nabi Besar Muhammad Saw.
وَعَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
اَلْعُمْرَةُ اِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ
الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ الَّا
الْجَنَّةَ. (متفق عليه)
Artinya: “Dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya Rosululloh Saw bersabda satu
umroh ke satu umroh yang lain dapat melebur (dosa-dosa) diantara keduanya, dan
haji yang mabrur tidak ada balasan (yang
pantas) baginya kecuali (masuk) surga”. (HR: Muttafaqun ‘alaihi).
Didalam hadits yang lain Nabi
Muhammad Saw menggambarkan seorang yang telah selesai menjalankan rukun islam
yang ke lima itu dengan baik tanpa
tercampur dengan kema’siatan dan tidak berkata
kotor maka bagaikan ia baru di lahirkan dari sang ibu.
وَعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ حَجَّ فَلَمْ رَفَثَ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ اُمُّهُ (متفق عليه).
Artinya:
“Dari Abi Hurairah ra berkata,”Saya mendengar Rosululloh Saw bersabda barang
siapa pergi haji maka kemudian ia tidak bertutur kata yang kotor dan tidak berbuat fasiq (dosa) maka ia pulang
seperti baru di lahirkan oleh ibunya. (HR: Muttafaqun ‘alaihi).
Hadirin
sidang Idul Adha yang berbahagia
Begitu juga Allah SWT memberikan
peringatan yang tegas bagi mereka yang membangkang, tidak mengindahkan perintah
tersebut melalui hadits Nabi besar Muhammad Saw:
وَرُوِيَ عَنْ عَلِي اَنَّ النَّبْيَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ فِي خُطْبَةِ لَهُ: اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ اللهَ فَرَضَ الْحَجَّ عَلَى
مَنْ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا, وَمَنْ لَمْ
يَفْعَلْ فَلْيَمُتْ عَلَى حَالٍ شَاءَ يَهُوْدِيًّا اَوْ نَصْرَانِيًّا اَوْ مَجُوْسِيًّا.
Artinya:
“Dan di riwayatkan dari sayidina Aly Karromallohu wajhah, sesungguhnya Nabi
Muhammad Saw di saat khutbah: “Wahai manusia sesungguhnya Allah mewajibkan haji
atas orang-orang yang mampu menunaikan
perjalanannyadan barang siapa tidak menjalankan maka sebaiknya ia mati atas keadaan apapun yang ia kehendaki,
menjadi golongan Yahudi, Nasroni atau Majusi”.
Ada nilai edukasi yang
baik didalam pelaksanaan haji secara konferhensif dan dapat kita amalkan
sehari-sehari, sebagaimana di jelaskan di dalam kitab jawahirul bukhori (جواهر البخاري):
1-
تَعويد المسلمين الانتقال من جهة الى اخرى ليتمرَّنوا على تحمل المشاق الخ
Agar orang-orang muslim
terbiasa berpindah-pindah dari satu daerah/keadaan ke daerah/keadaan yang lebih
baik agar terbiasa pula memikul tanggung jawab yang besar dan selalu
mendahulukan fikiran serta niat yang baik dalam menyelesaikan persoalan. Hal
ini sejalan dengan firman Allah SWT QS. Ar Ra’d ayat 11:
اِنَّ اللهَ لَايُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا
بِاَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
تهذيب
النفوس -2
Mendidik hati agar selalu mensucikan
dan menyempurnakan haji, karena dihadapan Allah kita sama baik yang kaya atau
yang miskin hanya taqwa yang dapat membedakan kita. Sebagaimana hadits yang
kami sebutkan diatas.
تعارُفُ
الناسِ وتعاوُنُهُمْ لِيعملوا على ما فيه صلاحُهم فِي الدُنْيَا وَالْاَخِرَةِ. -3
Saling mengenal dan tolong menolong
(dalam kebaikan) agar dapat beramal untuk kebaikannya di dunia dan akherat.
Sebagaimana telah diperintahkan Allah SWT:
وَتَعَاوَنُوْا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ,
وَالتَّقُوااللهَ اِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ.
Artinya:
“Dan tolong menolonglah kamu semua dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan
jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu
semua kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
تعويد
الانسان الاخلاصَ فِي الْعمل الخ-4
Membiasakan ihlas dalam beramal, karena para jama’ah haji
itu datang dari tempat yang jauh,
meninggalkan keluarga, harta bendanya dan mengeluarkan ongkos haji yang tidak
sedikit jumlahnya dan lain-lain yang kesemuanya mereka lakukan hanya untuk
memenuhi panggilan Allah SWT semata.
Hadirin para tamu Allah
SWT yang berbahagia
Demikianlah yang dapat kami sampaikan
mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
– لَنْ يَنَالُ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَادِمَآؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَداَكُمْ وَبَشِّرِ اْلمُحْسِنِيْنَ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اللهُ اَكْبَرْ – اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَرُ- اَللهُ أَكْبَر.اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ
للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ
اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ اْلأَعْيَادَ
بِالْاَفْرَحِ وَالدُّرُوْرِ, وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيلَ اْلأُجُوْرِ, وَكَمَّلَ
الضِّيَافَةَ فِيْ يَوْمِ اْلعِيْدِ لِعُمُوْمِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِسَعْيِهِمُ اْلمَشْكُوْرِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ العَفْوُالْغَفُوْرُ,
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ نَالَ مِنْ
رَبِّهِ مَالَمْ يَنَلْهُ مَالِكٌ مُقَرَّبٌ وَلاَرَسُوْلٌ مُطَهَّرٌ مَبْرُوْرٌ. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍالنَبِيِ الْأُمِيِ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ
الَّذِيْنَ كَانُوْا يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ,
وَاعْلَمُوْا ياَاِخْوَانِيْ رَحِمَ كُمُ اللهُ اِنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ
يَتَجَلىَ اللهُ فِيْهِ عَلَى عِبَادِهِ مِنْ كُلِّ مُقِيْمٍ وَمُسَافِرٍ فَيُبَاهِيْ
لَكُمْ مَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ اِبْرَاهِيْمَ وَبَرِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَى سَيِّدِناَ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ اِبْرَاهِيْمَ فِي اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اَللَّهُمَّ
ارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ
بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ واعل جهادهم بالنصرالمبينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ
الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ
وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِناَ بِجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ اِسْتَجِبَ دُعَائَنَا يَارَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ اكْسِفْ عَنَّا اْلبَلاَءَوَاْلغَلاَءِ وَاْلوَبَاءَ وَفَحْشَاءَ
وَاْلمُنْكَرِ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقْيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَلْ دُعَاءِ,
رَبَّنَا اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ,
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلاَدًا اَمِنَا وَرْزُقْ اَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ اَمَنَ
مِنْهُمْ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ, رَبَّنَا تَقَبَلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِناَ قُرَّةَ
اَعْيُنٍ وَاْجَعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامَا. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرَوَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Selasa, 24 Juli 2012
Bagaimana Gus Mus Berdakwah dengan Ipad ?
Dulu, kiai salaf di pondok pesantren selalu identik dengan kitab kuning yang lusuh. Kini, identitas itu tak lagi berlaku bagi Gus Mus. Perkembangan teknologi membuat Gus Mus - pangilan akrabnya - membaca kitab-kitab kuning tak lagi dengan membawa kitab kuning, tetapi ia memanfaatkan fasilitas komputer tabled buatan Apple. "Kita sangat terbantu dengan teknologi modern ini," ujar Gus Mus
Pria kelahiran Rembang tahun 1944 itu juga menjelajahi dunia maya untuk mengetahui perkembangan zaman dan teknologi. Ia membuat akun jejaring sosial, seperti facebook, twitter hingga blog dengan alamat: http://gusmus.net/.
Gus Mus mengaku sudah berkali-kali memamerkan iPad miliknya. Salah satunya ketika mengisi ceramah pengajian di Sumenep, Madura. Dia menunjukkan video Michael Jackson yang "menyanyikan" lagu Madura.
Ternyata, para kiai tersebut tidak tertarik. Para kiai juga protes karena dianggapnya akan menimbulkan ketergantungan dengan teknologi.. Lalu, Gus Mus memperlihatkan hasil download kitab-kitab kuning dari berbagai perpustakaan di penjuru dunia. "Buka kitabnya gak usah pake tulunjuk jari dengan pelicin ludah, tapi cukup dijawil," kata suami Siti Fatimah itu.
Sejak itu, para kiai mulai tertarik iPad. Tapi, mereka mengeluh kenapa hurufnya kok kecil. Gus Mus langsung menyahut: "Jawil saja dengan dua jari telunjuk dan ibu jari, hurufnya akan langsung membesar". Para kiai langsung terperangah. Sambil guyonan mereka langsung menanyakan harganya.
Menurut Gus Mus, keberadan teknologi terserah pada penggunanya. Ia mencontohkan adanya twitter dan facebook sangat bermanfaat untuk silaturahmi dan belajar dari kicauan orang-orang. "Mudah mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber," kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang tersebut.
Kini, dengan iPad, Gus Mus selain tak repot membawa segepok kitab kuning, tetapi dia cukup mendownload kitab-kitab kuning. Keuntungan lain, dia juga bias belajar di mana saja. "Pas jalan macet kita bisa membaca kitab atau baca Al-Qur'an," katanya. Kini, di mana ada Gus Mus pasti ada iPad yang ditentengnya. (tempointeraktif)
Pria kelahiran Rembang tahun 1944 itu juga menjelajahi dunia maya untuk mengetahui perkembangan zaman dan teknologi. Ia membuat akun jejaring sosial, seperti facebook, twitter hingga blog dengan alamat: http://gusmus.net/.
Gus Mus mengaku sudah berkali-kali memamerkan iPad miliknya. Salah satunya ketika mengisi ceramah pengajian di Sumenep, Madura. Dia menunjukkan video Michael Jackson yang "menyanyikan" lagu Madura.
Ternyata, para kiai tersebut tidak tertarik. Para kiai juga protes karena dianggapnya akan menimbulkan ketergantungan dengan teknologi.. Lalu, Gus Mus memperlihatkan hasil download kitab-kitab kuning dari berbagai perpustakaan di penjuru dunia. "Buka kitabnya gak usah pake tulunjuk jari dengan pelicin ludah, tapi cukup dijawil," kata suami Siti Fatimah itu.
Sejak itu, para kiai mulai tertarik iPad. Tapi, mereka mengeluh kenapa hurufnya kok kecil. Gus Mus langsung menyahut: "Jawil saja dengan dua jari telunjuk dan ibu jari, hurufnya akan langsung membesar". Para kiai langsung terperangah. Sambil guyonan mereka langsung menanyakan harganya.
Menurut Gus Mus, keberadan teknologi terserah pada penggunanya. Ia mencontohkan adanya twitter dan facebook sangat bermanfaat untuk silaturahmi dan belajar dari kicauan orang-orang. "Mudah mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber," kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang tersebut.
Kini, dengan iPad, Gus Mus selain tak repot membawa segepok kitab kuning, tetapi dia cukup mendownload kitab-kitab kuning. Keuntungan lain, dia juga bias belajar di mana saja. "Pas jalan macet kita bisa membaca kitab atau baca Al-Qur'an," katanya. Kini, di mana ada Gus Mus pasti ada iPad yang ditentengnya. (tempointeraktif)
sumber : http://adf.ly/B6H0Y
Jumat, 22 Juni 2012
ACARA REONI INFIJAR 2012
SEMOGA SUKSES TAMPA ADA HALANGAN APAPUN SAMPAI AKHIR ACARA DAN MENGHASILKAN KESEMPURNAAN PERSAUDARAAN SERTA KECINTAAN ANTARA MASYAYIKH, ASSATIZD, ALUMNI, DAN PONDOK PESANTREN LIRBOYO TERCINTA.
AMIN.........
Minggu, 06 Mei 2012
ACARA MULTAQO ULAMA INTERNASIONAL KE-VI MAJELIS MUWASHOLAH BAINA ULAMAIL MUSLIMIN
Multaqo Ulama’ ke-VI Majelis Muwasholah Internasional Baina Ulama’il Muslimin ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di seluruh Nusantara dan Manca Negara di antaranya: Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Bali, bahkan sampai dari Negeri Jiran Malaysia, Thailand, Singapura, Amerika, Australia, dan Timur Tengah. Tak kurang dari 500 peserta anggota tetap Multaqo dan hadirin non peserta turut mengikuti acara selama empat hari.
Acara yang berlangsung selama empat hari, 27-30 April 2012 ini, dimulai dengan pembukaan Multaqo pada Jum’at malam Sabtu tanggal 27 April 2012 Pukul 20.00 WIS oleh pengasuh Ribat Darul Musthofa Tarim Hadromaut Yaman Al-Habib Umar Bin Hafizh di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur. Even akbar yang biasanya dilaksanakan berturut-turut di Bogor, baru pertama kali ini dilaksanakan di Pondok pesantren Lirboyo. Dan Alhamdulillah agenda acara Multaqo berjalan dengan lancar. Mulai dari pembukaan Multaqo, Sholat berjamaah dan pembacaan kitab “Qubsun Nurul Mubin” karangan beliau Al-Habib Umar bin Hafizh sekaligus Musyafahah, Jalsah Ammah dan Khossoh, Tabligh Akbar Nasional, Ziaroh ke makam pendiri Pondok Pesantren Lirboyo dan diakhiri dengan shilaturrohim ke Para Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo.
Lapangan dan Aula Al-Muktamar dibanjiri Jama’ah baik putra maupun putri, lebih dari dua puluh ribu manusia turut menyaksikan, sekedar untuk membasahi hati yang kering dengan siraman rohani dari para Habaib dan Kyai.
Aula Al-Muktamar menjadi saksi berkumpulnya para Habaib, Ulama’, Para Kyai dan tokoh Masyarakat dalam acara pembukaan Multaqo, Jalsah dan Penutupan Multaqo. Sementara gedung sekolah An-nahdloh menjadi tempat registrasi dan penginapan para peserta multaqo sedangkan kediaman para Masyayikh Lirboyo menjadi tempat penginapan para Habaib.
Alasan mengapa Pondok pesantren dijadikan tempat perhelatan akbar Multaqo berskala internasional Karena lingkungan pesantren sangat cocok dengan latar belakang para Ulama’ tutur Habib Sholeh Al-jufri Solo selaku ketua Majelis Muwasholah wilayah Mataraman.
Al-Habib juga memberikan Ijazah beberapa Sholawat kepada seluruh Hadirin. Bagi pengunjung Website:www.lirboyo.net bisa langsung mendownlod Sholawat dibawah ini. Nang
Sumber : http://lirboyo.net/lirboyo-sukseskan-acara-multaqo-ulama-internasional-ke-vi-majelis-muwasholah-baina-ulamail-muslimin/
Kamis, 08 Maret 2012
Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW
Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Beliau SAW yang berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kisah-kisah seputar Nabi Muhammad SAW guna mengenang kehidupan Beliau. Biasanya maulid Nabi dilakukan dengan membaca kisah kehidupan Nabi seperti al-Barzanjy, ad-Daiba’y, Simth ad-Durâr, menghidangkan makanan, memperbanyak shalawat, mau’idhah hasanah, dan lain-lain. Dengan menjelajahi seluk beluk kehidupan Nabi SAW banyak hal yang dapat kita pelajari baik dari sisi kemanusian, sosial dan keadilan, karena beliaulah manusia terbaik dan teladan kita yang akan membawa kita pada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana firman allah Q.S Al-Ahzab ayat 21:
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan maulid seperti yang kita kenal sekarang sebenarnya baru dirintis oleh penguasa Irbil yaitu Raja Mudhaffar Abu Sa’îd Al Kukburi Bin Zainuddin Ali Bin Buktikin. Meski demikian, orang yang melakukannya akan diberi pahala. Imam Suyûthy mengatakan :
سُئِلَ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ وَهَلْ هُوَ مَحْمُودٌ أَوْ مَذْمُومٌ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لَا قَالَ وَالْجَوَابُ عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ r وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنْ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ r وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ
Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan maulid Nabi SAWpada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumny amneurut syara’.Aapakah terpuji atau tercela ? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak ? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Quran, dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya samapi perjalanan kehidupannya . Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Oarang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan rasa suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia.[1]
Jadi sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi itu merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senang atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Di samping itu, melihat isi dari perayaan maulid Nabi SAW, hal itu termasuk melaksanakan anjuran-anjuran agama. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan maulid nabi :
- Pembacaan solawat pada Nabi SAW yang mana keutamaannya sudah tidak diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya. Sehingga dengan kajian inilah seorang muslim memperoleh gambaran tentang haqiqat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
- Peringatan tersebut merupakan sebab atau sarana yang mendorong kita untuk bershalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah :
إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS al-Ahzâb : 58)
- menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji sehingga seorang muslim akan termotifasi untuk mengikuti perilaku Beliau SAW. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Al-Quran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas dari syariah.[2]
Penjelasan di atas memberikan pengertian bahwa maulud nabi merupakan tradisi yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri. Sebab kebiasaan tersebut memang sangat dianjurkan oleh syariat, sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh di lewatkan, bahkan menjadi kewajiban bagi para da’i ,ulama untuk mengingatkan ummat pada akhlak, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah ,cara bergaul ,dan ibadah Nabi SAW.[3]
Sebenarnya memperingati hari kelahiran (maulid) pernah dicontohkan oleh Nabi sendiri. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim disebutkan :
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ (رواه مسلم عن أبي قتادة)
Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku (HR Muslim dari Abî Qatâdah)
Ternyata Rasulullah juga memperingati hari kelahiran Beliau dengan cara berpuasa. Rasulullah SAW sendiri yang menjelaskan bahwa hari kelahiran Beliau mempunyai keistimewaan daripada hari-hari yang lain.
Hanya yang perlu ditegaskan, peringatan maulid Nabi SAW tidak terkhusus pada bulan Rabi’ul Awwal saja. Kita dianjurkan untuk selalu memperingati Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu setiap ada kesempatan, lebih-lebih ketika bulan Rabi’ul Awwal dan ketika hari Senin. Memang peringatan maulid Nabi SAW pada bulan tertentu dan dengan model tertentu tidak mempunyai nash yang tegas. Namun juga tidak ada satu dalilpun yang melarang karena berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah, membaca shalawat dan amal-amal baik lainnya termasuk yang harus selalu kita perhatikan dan kita lakukan. Lebih-lebih pada bulan kelahiran Beliau SAW di mana rasa keterikatan sejarah akan sangat mendorong masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan lebih meresapi apa yang dilakukan dan disampaikan.[4]
DALIL-DALIL DIPERBOLEHKAN PERAYAAN MAULID
@ Perayaan maulid Nabi SAW adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau. Hal ini diperintahkan oleh agama sebagaimana firman Allah :
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"(QS Yûnus : 58)..
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira ketika mendapatkan rahmat Allah. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah rahmat yang paling agung sebagaimana firman Allah :
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS al-Anbiyâ` :107)
Hal ini diperkuat oleh pendapat shahabat Ibn ‘Abbas. Ketika mengomentari surat Yûnus : 58, Beliau mengatakan
فضل الله العلم ورحمته محمد r قال الله تعالى وما أرسلناك إلا رحمة للعلمين
Karunia Allah adalah ilmu, sedang rahmat Allah adalah Nabi Muhammad SAW.Allah berfirman,”Wa Mâ Arsalnâka…..[5]
Bergembira atas kelahiran Nabi SAW dianjurkan di setiap waktu dan dalam setiap karunia. Namun anjuran tersebut menjadi lebih pada hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal karena mempunyai keterikatan sejarah.
@ Nabi sangat memulyakan dan memperhatikan hari kelahiran Beliau sebagaimana tercermin dalam hadits :
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ , فَقَالَ : ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ , وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ عن أبي قتادة
Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku (HR Muslim dari Abî Qatâdah)
Betapa Rasulallah memulyakan hari kelahirannya, beliau bersyukur pada Allah SWT pada hari tersebut atas karunianya yang telah menyebabkan keberadaannya yang diungkapkan dengan berpuasa.
Memang Nabi memperingati hari kelahiran Beliau dengan berpuasa berbeda dengan yang sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Namun hal ini tidak mengapa karena itu hanya masalah metode. Sedang inti dan tujuannya sama, yaitu memepringati dan mensyukuri kelahiran Beliau. Hal ini tidak jauh beda dengan perintah mengajarkan al-Quran. Sekarang al-Quran diajarkan melalui CD, kaset, dan lain sebagainya. Hal ini tidak mengapa karena hanya dalam metode. Sedang intinya sama yaitu mengajarkan al-Quran.
@ Nabi SAW selalu memperhatikan waktu-waktu bersejarah yang telah lewat. Ketika tiba masa peristiwa tersebut, Rasulullah SAW memperingati dan memulyakan hari tersebut. Hal ini tercermin dalam hadits :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ r الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري وسلم وغيرهما)
Dari Ibn ‘Abbâs ra. Ia berkata, ketika Rasulallah SAW dan para sahabat tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang puasa Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa kalian melakukan puasa tersebut?” Orang yahudi menjawab, “Pada hari inilah Allah menenggelamkan Firaun dan menyalamatkan Nabi Musa AS. Kami sangat mensyukurinya. Oleh karena itu kami berpuasa. Mendengar jawaban itu, Rasulallah bersabda, “Kami lebih berhak untuk memulyakan Nabi Musa AS (dengan berpuasa) daripada kalian. (HR Bukhari, Muslim, Abi Dawud, dll.)
@ Peringatan maulid Nabi adalah mengingat perjalanan hidup dan diri Rasulullah SAW. Hal seperti ini termasuk bagian dari anjuran agama. Bila kita perhatikan rangkaian ritual ibadah haji, ternyata mayoritas adalah untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus dan tempat-tempat bersejarah, seperti : sa’i Shafa dan Marwah untuk mengingat Siti Hajar ketika mencari air, enyembelihan di Mina, melempar jumrah, dan lain sebagainya.
@ Manfaat dari bergembira dengan kelahiran Nabi SAW ternyata juga bisa dirasakan oleh Abu Lahab sebagaimana disampaikan ibn al-Jazary dalam ‘Urf at-Ta’rîf bi al-Maulid as-Syarîf :
قد رؤي أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك فقال في النار إلا أنه يخفَّف عني كلَّ ليلة اثنين بإعتاقي ثُويبة عندما بشرتْني بولادة النبي r وبإرضاعها له
Abu Lahab terlihat dalam mimpi setelah ia mati. Ia ditanya,”bagaimana kondisimu?” Abu Lahab menjawab, “Di neraka. Hanya saja Allah memberi keringanan padaku setiap malam Senin karena aku memerdekakan Tsuwaibah setelah memberitahukan kelahiran Nabi SAW dan karena menyusukan Nabi padanya.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam Kitâb an-Nikâh, Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri`, ‘Abdur Razâq as-Shan’âny dalam al-Mushannaf, al-Baihaqy dalam Dalâ`il an-Nubuwwah, Ibn Katsîr dalam al-Bidâyah, as-Syaibany dalam Hadâ`iq al-Anwâr, al-Baghawy dalam Syarh as-Sunnah, dan lain-lain.
Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan dispensasi siksa karena memulyakan dan gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi bila yang bergembira adalah orang Islam. Meskipun kisah ini termasuk kategori hadits mursal, namun dapat diterima karena telah dinukil oleh Imam Bukhari dan menjadi pedoman para ulama. Lagipula ini dalam permasalahan sejarah bukan dalam hukum.
@ Tidak setiap perbuatan yang tidak dikenal di masa awal Islam berarti tidak boleh dilakukan.[6] Apalagi dalam permasalahan maulid. Meski model secara utuh yang dikenal sekarang tidak pernah dilakukan di masa awal Islam. Namun secara parsial, tiap amal yang dilakukan pada perayaan maulid dianjurkan agama. Sehingga perayaan maulid Nabi juga termasuk anjuran agama. Sebab sesuatu yang tersusun dari hal-hal yang dianjurkan berarti juga dianjurkan.[7]
SEPUTAR PENGKULTUSAN RASULULLAH DAN PEMBACAAN AL-BARZANJY
Membaca maulid al-Barzanjy, ad-Daiba’i, Simth ad-Durar, ad-Dliyâ` al-Lâmi’, dan sebagainya diperbolehkan. Bahkan tradisi bersyi’ir memuji Rasulullah SAW telah dilakukan oleh shahabat al-‘Abbas sebagaimana dalam hadits :
قَالَ خُرَيْمُ بن أَوْسِ بن حَارِثَةَ بن لامٍ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ r, فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَحِمَهُ اللَّهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَمْدَحَكَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ r هَاتِ لا يَفْضُضِ اللَّهُ فَاكَ فَأَنْشَأَ الْعَبَّاسُ يَقُولُ :
مِنْ قَبْـلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلالِ وَفِي & مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ
ثُـمَّ هَبَـطْتَ الْبِـــــــلادَ لا بَشَـرٌ أَنْـــ & ـــــــتَ وَلا مُضْــغَةٌ وَلا عَلَــــــــقُ
بَلْ نُطْفَــةٌ تَــرْكَـبُ السَّفـــِينَ وَقَـــدْ & أَلْجَــــــــمَ نَسْرًا وَاهَــلَهُ الْغَـــــــرَقُ
تُنْـــــقَلُ مِنْ صــَـالِبٍ إِلَى رَحِـــــمٍ & إِذَا مَضَى عَالِمٌ بَدَا طَبـــــــــــــــَقُ
حَتَّى احْتــَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ مــِنْ & خَنْـــــدَفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّــــطْقُ
وَأَنْتَ لَمَّا وُلِــدْتَ أَشْــــــرَقَـتِ الْ & أَرْضُ وَضَـــاءَتْ بنورِكَ الأُفــــُقُ
فَنَــحْـــــنُ فِي الضِّيَـــــاءِ وَفِـي النْـ & ـنُوْرِ وَسُــبْلُ الرَّشَـــــادِ نَخْتَــــرِقُ
(رواه الحاكم في المستدرك والطبراني في المعجم الكبير)
Hadits di atas juga disebutkan oleh Qâdli ‘Iyâdl dalam as-Syifâ` dan al-Istî’âb dan Muhammad bin Abi ‘Umar (guru Imam Muslim).
Sebagian orang melarang perayaan maulid dan membaca al-Barzanjy dan sejenisnya karena berisi pujian kepada Rasulullah SAW. Padahal Nabi sendiri telah melarang pujian kepada Beliau sebagaimana dalam hadits :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ t يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ r يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ (رواه البخاري)
Dari Ibn ‘Abbas, ia mendengar Umar ra. Berkata di atas mimbar : Aku mendengar Nabi SAW bersabda, “Jangan mengkultuskan aku sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan Isa ibn Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhâri)
Menjawab hal tersebut, perlu kita ketahui bahwa Rasulullah SAW secara tegas telah melarang pengkultusan kepada Baliau. Yaitu pengkultusan seerti yang dilakukan orang nashrany kepada Nabi Isa dengan menganggap Nabi Isa sebagai anak Tuhan atau bagian dari trinitas. Sedang memuji kepada Nabi SAW yang tidak sampai menuhankan Beliau, mengeluarkan Beliau dari kemanusiaan diperbolehkan karena Allah sendiri telah memuji kepada Nabi Muhammad SAW seperti dalam firman-Nya :
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS al-Qalam : 4 ).
Kita memuji kepada Nabi Muhammad SAW bukan berarti kita mengangkat Beliau dari sifat kemanusiaan. Kita mengagungkan kepada Nabi sebagaimana Allah telah mengagungkan Beliau. Kita memuliakan orang yang telah dimuliakan Allah. Kita memuji kepada Beliau SAW yang telah dipuji oleh Allah. Kita menyanjung Nabi karena ketatan kita kepada Allah yang telah menyang Rasulullah SAW. Di samping itu, para shahabat dulu sering memuji kepada Beliau SAW seperti dalam kisah al-‘Abbâs di atas dan ternyata Beliau mendiamkan yang berarti pertanda Beliau menyetujui.
[1] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, al-Hâwi Li al-Fatâwy, (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Araby), tt., vol.I, hal. 251-252.
[2] Syekh Sayyid Muhamad ‘Alâwy al-Maliki, Fatawi Rasa`il, hal. 180
[3] Sayyid Muhamad al- Maliki,Mafâhîm Yajib an Tushahhah, (Makkah : Dâ`irah al-Auqâf wa as-Syu`ûn al-Islâmiyah), tt., hal. 78
[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl bi Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy as-Syarîf,(Kairo : Dâr Jawâmi’ al-Kalim), cet.ke-10, 1418 H., hal,11-13.
[5] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, ad-Dur al-Mantsûr, Maktabah al-Maimuniyah, vol.II, hal. 308.
[6] Lebih jelas silahkan lihat dalam pembahasan bid’ah.
[7] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 34.














